Sabtu, 26 Juni 2021

Pentingnya Adab kepada yang Berilmu

 


Sebagai manusia yang beragama, menuntut ilmu merupakan suatu keharusan dan menjadi kebutuhan yang mendasar dalam menjalani kehidupan. Semua kepercayaan menganjurkan penganutnya untuk mememilki ilmu, begitu juga dengan Islam yang senantiasa mengutamakan ilmu diatas segalanya. Karena ilmu kita dapat menyelesaikan segala permasalahan, karena ilmu kita dapat menjaga harkat dan martabat, karena ilmu juga kita dapat derajat tinggi dimata Allah Subhanahu wa ta'ala.

Keharusan dalam mencari ilmu telah dijelaskan dalam salah satu hadist Nabi SAW yang sangat populer dan kita pun sering mendengarkan dalam kajian sebagai berikut :


طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ

Artinya: "Mencari ilmu adalah kewajiban setiap Muslim, dan siapa yang menanamkan ilmu kepada yang tidak layak seperti yang meletakkan kalung permata, mutiara, dan emas di sekitar leher hewan." (HR Ibnu Majah).

Keharusan kita dalam berilmu seperti yang telah dipaparkan pada artikel sebelumnya menjadi landasan utama dalam kita berkewajiban untuk menerapkan adab sebagai seorang pencari ilmu. Dengan adab kita dapat menjaga keberkahan ilmu dan mempertahankannya sehingga dapat menjadi sebenar - benarnya bekal di dunia dan akhirat kelak.

Salah satu adab yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu adalah memiliki penghormatan terhadap ilmu dan orang alim, dengan sikap tersebut didapatkan manfaat dari ilmu yang dimilikinya.


ومن توقير المعلم أن لايمشى أمامه، ولا يجلس مكانه، ولا يبتدئ بالكلام عنده إلا بإذنه،

Bahwa termasuk arti menghormati guru, yaitu jangan berjalan di depannya, duduk di tempatnya, memulai mengajak bicara kecuali atas perkenan darinya.

ولا يكثر الكلام عنده، ولا يسأل شيئا عند ملالته ويراعى الوقت، ولا يدق الباب بل يصبر حتى يخرج 

Hendaknya tidak banyak bicara di hadapan guru. Tidak bertanya sesuatu bila guru sedang capek atau bosan. Menjaga waktu jangan mengetuk pintunya, namun sebaliknya menunggu sampai beliau keluar.

[Kitab Ta'lim Muta'allim]

Maka bagi kita yang berilmu, bersikap arif dan bijaklah dengan siapapun yang memberikan dan mengajarkan ilmu dengan tulus pada diri kita, sehingga keberkahan lah yang akan melekat pada keilmuan yang kita miliki.


Selasa, 22 Juni 2021

Pergaulan Sehat Sesuai Tuntunan Agama

 

Manusia hidup terus berkembang seiring dengan pengetahuan yang terus bertambah, cara bergaul pun berubah menyesuaikan dengan perubahan pola pikir manusia modern. Namun belum tentu pula pergaulan era modern adalah cara bergaul yang dibenarkan oleh ajaran Agama, mengingat banyak hal yang harus diperhatikan mengenai etika dalam bergaul.

Pergaulan yang terjadi pada kalangan muda kini semakin jauh dari syarat pergaulan sehat dan penerapan nilai agama yang seharusnya, banyak faktor yang mempengaruhi seperti halnya perhatian orang tua, kondisi lingkungan, serta kurangnya pemahaman agama yang semestinya diberikan sejak dini pada generasi muda, sehingga dapat memilih lingkungan dan cara bergaul yang baik.

Bukan berarti kita harus membedakan kasta antara satu dengan lainnya, namun bila kita tidak memiliki benteng yang kuat barangkali kita yang akan terjerumus kedalam lembah kemaksiatan melalui bergaul, maka kita dianjurkan untuk memilih lingkungan atau pergaulan yang baik.

      Sahl bin Abdullah berkata : Berhati – hatilah (jangan) berkawan dengan tiga macam manusia :
    1. Pejabat pemerintah yang kejam.
    2. Ahli Quraa’ yang bermuka -  muka.
    3. Orang tasawuf gadungan (yang bodoh tentang hakikat tasawuf)

Ali bin Abi Thalib ra. pun pernah berkata : Sejahat – jahat teman yang memaksa engkau bermuka – muka dan memaksa engkau minta maaf atau selalu mencari alasan.

Iman kita sangatlah mudah goyah, maka dari cuplikan di atas perlu digaris bawahi bahwa mencari teman dan mencari lingkungan sangat dibutuhkan untuk melindungi diri dari hal – hal yang tidak diinginkan.

Berkawanlah dengan kepentingan - kepentingan yang baik dan diperbolehkan oleh ajaran agama!

Bukan berkawan dengan maksud mengambil keuntungan semata atau bahkan hendak memberikan pengaruh buruk bagi mereka yang kita jadikan kawan, berkawanlan untuk saling mengingatkan akan kebaikan, berkawanlah untuk saling memberi dukungan satu dengan yang lain, berkawanlan untuk saling berlomba dalam mencari keridhoan – Nya, dan berkawanlan untuk semua hal yang kelak akan menjadi ladang panin kita pada alam akhirat kelak.

Kemungkinan kita berbuat salah sangatlah besar, jika tidak berkawan dengan orang yang tepat bak cermin yang sangat kusam dan tidak dapat dipergunakan untuk berkaca. Cermin yang bersih dan terawat diibaratkan seorang kawan yang selalu mengingatkan kita kepada kebaikan dan selalu menyadarkan kita seolah seperti saat bercermin dimana akan nampak setitik keburukan dalam diri kita yang terlihat dari cermin tersebut, dan kita segera melakukan perubahan.

Sebaliknya kaca yang sangat kusam dan tidak terawat mengibaratkan kawan yang tidak pernah peduli akan hal baik dan buruk, tidak mengerti apa yang diperintahkan dan dilarang, segala sesuatu yang kita lakukan selalu tidak terkontrol. Hal tersebut dapat terjadi karena kaca yang kusam tidak dapat memantulkan secara jelas bagaimana kondisi diri kita, sehingga kita tidak mampu untuk berkaca pada diri sendiri dan mengetauhi hal buruk dan hal baik apa yang kita perbuat.



Maka pilihlah lingkungan yang tepat, pilihlah pergaulan yang tepat, pilihlah kawan yang tepat namun niatkan itu semua hanya untuk keridhoan – Nya semata bukan karena ingin membedakan kasta, sebagai bukti bahwa kita memahami Sunatullah sebagi makhluk yang berbeda, sedapat mungkin dapat saling mengingatkan akan kebaikan maka pergaulan akan membuahkan kebaikan.

Wallahualam Bissawab.

Senin, 21 Juni 2021

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Kemaslahatan

 


Bagi sebagian kita yang telah memiliki pengetahuan cukup dalam pengelolaan teknologi sudah sepatutnya mengembangkan potensi dan menyebarluaskan manfaat teknologi digital untuk kemaslahatan bersama, mengingat banyaknya hal yang bisa mendatangkan manfaat ketika teknologi dipergunakan dengan tepat.

Berbagi macam platform teknologi yang kini dapat kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari seperti halnya teknologi komunikasi baik dalam bentuk text maupun video conference, teknologi tersebut dapat kita pergunakan untuk melakukan pertemuan jarak jauh khususnya pasa masa Pandemi Covid-19 seperi sekarang ini. Namun jika kita lihat dari sisi fungsional pada dasarnya penggunaan teknologi tersebut dapat memberikan manfaat positif bagi kita yang menggunakan untuk hal positif pula, seperti silaturahmi antar organisasi, sanak saudara, atau bahkan mengadakan perkumpulan yang  tidak harus menhadirkan member secara fisik sehingga hal penting lainnya dapat dilakukan secara bersamaan.

Teknolgi  lainnya yang dapat kita manfaatkan untuk mengembangkan potensi relasi yaitu media sosial, yang kini dimanfaatkan secara luas dari kalangan dewasa sampai anak – anak, dari lingkungan pekerja, pengusaha, sampai anak sekolah, semua bermedia sosial. Maka sudah selayaknya kita sebagai umat muslim melek teknologi sehingga tidak tergerus kemajuan zaman dan mawas diri dalam mengantisipasi gelombang modernisasi yang datang.

Pembaca yang budiman, ini bukan tentang mana ilmu dunia dan mana ilmu akhirat. Semua  ini adalah tentang Sunatullah yang harus kita jalani pada fase kehidupan di dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ilmu penting terkait sains dan teknologi seperti pada ayat berikut :

 

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, maka mengapa mereka tidak beriman?(QS. Al-anbiya: 30)

Ayat tersebut berkaitan tentang terjadinya langit dan bumi yang hingga kini tetap menimbulkan multi teori bagi ilmuan, menandakan bahwa kuasa dan pengetahuan Allah jauh melebihi segala yang diketahui makhluknya. Kita patut bersyukur akan hal tersebut dan memaknainya sebagai suatu pacuan semangat untuk selalu belajar mengikuti perkembangan zaman tanpa melunturkan nilai – nilai religius yang menaunginya.

Jadi jangan lagi berfikiran bahwa teknologi bukanlah ilmu akhirat yang tidak bisa menyelamatkan kita. Eits... tunggu dulu !

Semua ilmu merupakan pintu gerbang kita menuju kebahagiaan yang haq di akhirat kelak, tentu jika dilandasi dengan pemahaman religius yang kuat. Dengan landasan pemahaman yang baik terkait hal tersebut maka setiap orang yang mempelajari ilmu sains dan teknologi adalah orang yang beruntung dan baik di sisi Allah selama ilmu tersebut mendatangkan kemaslahatan untuk sesama dan tidak melanggar aturan – aturan Allah. Betul, ilmu Agama sangatlah penting, tapi untuk menerima sinyal petunjuk dari Allah di dunia ini perlu adanya pemikiran kritis dan sikap mau berusaha keras dalam menguasai ilmu pengetahuan.

Sosial media memang ladang basah bagi para penggunanya, baik untuk kepentingan sosial, bisnis, ataupun yang hanya bersenang senang, penulis memiliki informasi terkait dengan jumlah pengguna media sosial dalam kurun waktu enam tahun terakhir, diambil dari sumber katadata.co.id, sebagai berikut :

Grafik tersebut menunjukkan jumlah pengguna media sosial dalam miliar, maka dapat kita lihat bahwa pengguna media sosial pada tahun 2021 mencapai 4,2 Miliar! Luar biasa......

Baca Juga : Haruskah Kita Berilmu ?

Nah kita salah satunya, termasuk penulis. Maka dengan ini penulis mengajak dan menghimbau kepada kita semua untuk bijak dalam menggunakan media informasi dan komunikasi, sehingga ilmu dan pengetahuan yang kita miliki dapat berkembang dengan keberkahan menyertai, serta menjadi amal dan bekal kita pada perjalanan kehidupan kita selanjutnya. Amiin... 

Wallahualam Bissawab.

Minggu, 20 Juni 2021

Mendapat manfaat dari yang halal atau haram




Salah satu dari bentuk kehati – hatian dalam menjalani kehidupan adalah waspada dengan hal yang halal dan haram. Agama Islam memiliki perhatian khusus terhadap segala sesuatu yang mengatur pola hidup penganutnya, termasuk hal yang mendatangkan manfaat dari beberapa sebab seperti Halal, Syubhat, bahkan Haram.

Banyak dari kita yang berfokus pada hasil tanpa menilai proses, sehingga mengesampingkan faktor kewajaran berdasarkan norma – norma yang mengaturnya. Memperoleh kekayaan harta “banyak” yang didapatkan dengan cara mencuri, korupsi, menipu dan lain dsebagainya. Jadi masih mau mendapatkan sesuatu dengan cara yang diharamkan?

 

إِنَّ الحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اِسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ.

 أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى. أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ. أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

» رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Sesungguhnya yang halal telah jelas dan yang haram telah jelas, dan diantara keduanya ada hal-hal yang samar yang tidak diketahui kebanyakan manusia. Barangsiapa menjaga diri dari hal yang samar (syubhat), sungguh dia telah memelihara agama dan kehormatannya, dan barangsiapa yang terjatuh pada yang syubhat, akan terjatuh pada yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar tanah larangan yang suatu saat akan memasukinya.

Ketahuilah, sesungguhnya setiap raja memiliki batas larangan. Ketahuilah batas larangan Allah
adalah hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, didalam tubuh ada segumpal daging, jika baik
maka baik pula seluruh tubuh, tetapi jika buruk maka buruk pula seluruh tubuh. Ketahuilah,
segumpal daging itu adalah hati.

(HR. AlBukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

Hadist di atas sudah sepatutnya menjadi pengingat bagi kita dalam mawas diri dan berhati – hati dalam memperoleh suatu manfaat dengan cara yang halal. Karena semakin sering kita mengabaikan hal tersebut semakin keras pula hati kita karena tertutup akan sesuatu yang diharamkan, sehingga tiada cahaya dan hikmah yang mampu menembus tebalnya dinding kegelapan dalam hati kita.

( نعوذ بالله من ذلك )


Baca Juga : Pemanfaatan Teknologi untuk Kemaslahatan

Wallahu A'lam Bishawab


Sabtu, 19 Juni 2021

Haruskan kita berilmu ?


    Sebagian dari ibadah yang kita lakukan dalam kehidupan ini adalah "mencari ilmu" seperti yang telah Allah perintahkan kepada Baginda Nabi MuhammaShallallahu ‘alaihi wasallam, yang barang tentu kita yang mengaku sebagai umatnya menjadi suatu keharusan unttuk meneladani. Kebesaran dan kekuasaan Allah yang yang menguasakan ilmu kepada kekasih - Nya meski sang Kekasih belum dikaruniai kemampuan membaca pada saat itu.

وَمَا كُنْتَ تَتْلُوْا مِنْ قَبْلِهٖ مِنْ كِتٰبٍ وَّلَا تَخُطُّهٗ بِيَمِيْنِكَ اِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُوْنَ

“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu kitab sebelum (Al-Qur'an) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.” (QS. Al-‘Ankabut [48])

    Jika Sang pemimpin besar Ummat saja diperintahkan oleh Allah untuk berilmu, apalagi kita? 

    Maka jadilah pribadi yang berilmu sehingga kita memiliki manfaat dengan ilmu tersebut. Terdapat keutamaan yang harus diperhstikan oleh para pencari ilmu baik yang ada di sekolah / pesantren ataupun mencari ilmu di lingkungan masyarakat, atau sering disebut juga dengan santri kalong. 😊

    Dijelaskan pada kitab Ta'lim Muta'alim bahwa kewajiban berilmu bagi kita yang utama adalah Imu Agama yang melandasi segala amal dan perbuatan kita, serta diimbangi dengan ilmu berkaitan dengan apa yang dibutuhkan pada era sekarang ini seperti halnya : kesehatan, hukum, teknologi informasi, ilmu pemerintahan, serta ilmu - ilmu lain yang relelvan dan bermanfaat untuk kemaslahatan pada kehidupan ini. 

    Muhammad bin Al Hasan bin Abdullah mengatakan dalam syairnya :

    "Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. Jadikan hari - harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan di lautan ilmu yang berguna"

    Abu Hanifah pun berkata : 

    " Tidak ada ilmu kecuali untuk diamalkan, sedangkan mengamalkannya berarti meninggalkan dunia untuk meraih kebahagiaan di akhirat"

    Oleh karena itu, setiap kita yang beriman hendaknya belajar ilmu yang bermanfaat dengan penuh kesungguhan dan keyakinan akan Rahmat Allah yang menyertai sehingga ilmu yang dimiliki memiliki manfaat untuk orang lain dan dirinya sendiri.

Wallahu A'lam Bishawab.

Jumat, 18 Juni 2021

Merubah nasib, atau dirubah nasib ?

    Mungkin sebagian dari kita pernah berfikir tentang hidup enak, hidup nikmat, dan sejahtera! ya, itu merupakan impian setiap kita sebagai makhluk Allah yang paling sempurna. 😁

    Namun banyak juga dari kita yang belum menyadari bahwa hal tersebut harus ditempuh dengan berbagai cara dan upaya yang sesuai dengan norma - norma agama dan diridhoi oleh Sang Pencipta, karena memang kita diperintahkan untuk berusaha semaksimal mungkin untuk merubah nasib, bukan dengan rebahan atau dengan tiduran! heheh.

Allah Berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” 

(TQS. Ar-Ra’d [13]: 11).

    Ayat tersebut menjadi salah satu landasan dalam menjalani kehidupan baik dalam keadaan sempit maupun lapang, bagi mereka yang meyakini memang menjadi kekuatan tersendiri dalam menjalani. Spiritual yang kuat dan merasuk kedalam sanubari akan menjadi sebuah nur dalam qalbu yang menunjukkan jalan kebenaran bagi siapa yang memeluknya. 

    Seiring berkembangnya pola berfikir manusia modern yang menitikberatkan pada pengembangan IPTEK serta semakin menghilangnya ajaran - ajaran hikmah yang yang terkandung dalam nilai agama, menjadi pelemah daya fikir dan daya rasa manusia secara seimbang. Kini kita dihadapkan pada situasi yang menggambarkan tentang kegigihan tanpa kepercayaan, dan kepercayaan tanpa kegigihan, atau bahkan tidak gigih dan tidak percaya, Nah loh!

    Iya betul, sekarang ini kegigihan yang membuahkan keberhasilan seringkali menjadi peluntur kepercayaan sehingga menimbulkan anggapan "Ini Milikku !" tanpa ada kesadaran bahwa "Ini Pemberian Nya". Pemikiran tersebut menjadikan kita bersemangat dalam mencari segala yang ada di dunia tanpa bergantung kepada Sang Pemilik dunia, betapa mengerikannya tatkala kita mengetahui bahwa kenikmatan kita dibayarkan secara kontan di dunia ini sebagai mengganti kenikmatan yang haq pada kehidupan yang berikutnya. 


عِشْ مَا شِــئْتَ فَإِنَّـكَ مَـيِّتٌ وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ وَاعْـمَلْ مَـا شِئْتَ فَإِنَّـكَ لاَقِـيْـهِ

"Hiduplah sesukamu karena sungguh engkau pasti mati. Cintailah siapa pun yang engkau suka karena sungguh kalian pasti berpisah. Berbuatlah sesukamu karena sungguh engkau pasti menemui (balasan) perbuatanmu itu.” 
[HR al-Baihaqi]

    Sebaliknya jika keyakinan tanpa disertai dengan kegigihan akan menjadikan manusia memiliki sifat malas dan tidak memiliki daya juang dalam menjalankan kehidupan, sementara kita ada pada fase kehidupan yang pada dasarnya adalah medan penanaman benih untuk menuai bekal berpulang nanti. Maka jangan sia - siakan kesempatan yang Allah berikan kepada kita makhluk hidup yang sempurna. 

Tetaplah berkeyakinan akan kuasa Allah dan sertailah dengan kegigihan yang selayaknya apa yang diperintahkan Oleh - Nya.

Wallahu A'lam Bishawab


Pentingnya Adab kepada yang Berilmu

  Sebagai manusia yang beragama, menuntut ilmu merupakan suatu keharusan dan menjadi kebutuhan yang mendasar dalam menjalani kehidupan. Semu...