Selasa, 22 Juni 2021

Pergaulan Sehat Sesuai Tuntunan Agama

 

Manusia hidup terus berkembang seiring dengan pengetahuan yang terus bertambah, cara bergaul pun berubah menyesuaikan dengan perubahan pola pikir manusia modern. Namun belum tentu pula pergaulan era modern adalah cara bergaul yang dibenarkan oleh ajaran Agama, mengingat banyak hal yang harus diperhatikan mengenai etika dalam bergaul.

Pergaulan yang terjadi pada kalangan muda kini semakin jauh dari syarat pergaulan sehat dan penerapan nilai agama yang seharusnya, banyak faktor yang mempengaruhi seperti halnya perhatian orang tua, kondisi lingkungan, serta kurangnya pemahaman agama yang semestinya diberikan sejak dini pada generasi muda, sehingga dapat memilih lingkungan dan cara bergaul yang baik.

Bukan berarti kita harus membedakan kasta antara satu dengan lainnya, namun bila kita tidak memiliki benteng yang kuat barangkali kita yang akan terjerumus kedalam lembah kemaksiatan melalui bergaul, maka kita dianjurkan untuk memilih lingkungan atau pergaulan yang baik.

      Sahl bin Abdullah berkata : Berhati – hatilah (jangan) berkawan dengan tiga macam manusia :
    1. Pejabat pemerintah yang kejam.
    2. Ahli Quraa’ yang bermuka -  muka.
    3. Orang tasawuf gadungan (yang bodoh tentang hakikat tasawuf)

Ali bin Abi Thalib ra. pun pernah berkata : Sejahat – jahat teman yang memaksa engkau bermuka – muka dan memaksa engkau minta maaf atau selalu mencari alasan.

Iman kita sangatlah mudah goyah, maka dari cuplikan di atas perlu digaris bawahi bahwa mencari teman dan mencari lingkungan sangat dibutuhkan untuk melindungi diri dari hal – hal yang tidak diinginkan.

Berkawanlah dengan kepentingan - kepentingan yang baik dan diperbolehkan oleh ajaran agama!

Bukan berkawan dengan maksud mengambil keuntungan semata atau bahkan hendak memberikan pengaruh buruk bagi mereka yang kita jadikan kawan, berkawanlan untuk saling mengingatkan akan kebaikan, berkawanlah untuk saling memberi dukungan satu dengan yang lain, berkawanlan untuk saling berlomba dalam mencari keridhoan – Nya, dan berkawanlan untuk semua hal yang kelak akan menjadi ladang panin kita pada alam akhirat kelak.

Kemungkinan kita berbuat salah sangatlah besar, jika tidak berkawan dengan orang yang tepat bak cermin yang sangat kusam dan tidak dapat dipergunakan untuk berkaca. Cermin yang bersih dan terawat diibaratkan seorang kawan yang selalu mengingatkan kita kepada kebaikan dan selalu menyadarkan kita seolah seperti saat bercermin dimana akan nampak setitik keburukan dalam diri kita yang terlihat dari cermin tersebut, dan kita segera melakukan perubahan.

Sebaliknya kaca yang sangat kusam dan tidak terawat mengibaratkan kawan yang tidak pernah peduli akan hal baik dan buruk, tidak mengerti apa yang diperintahkan dan dilarang, segala sesuatu yang kita lakukan selalu tidak terkontrol. Hal tersebut dapat terjadi karena kaca yang kusam tidak dapat memantulkan secara jelas bagaimana kondisi diri kita, sehingga kita tidak mampu untuk berkaca pada diri sendiri dan mengetauhi hal buruk dan hal baik apa yang kita perbuat.



Maka pilihlah lingkungan yang tepat, pilihlah pergaulan yang tepat, pilihlah kawan yang tepat namun niatkan itu semua hanya untuk keridhoan – Nya semata bukan karena ingin membedakan kasta, sebagai bukti bahwa kita memahami Sunatullah sebagi makhluk yang berbeda, sedapat mungkin dapat saling mengingatkan akan kebaikan maka pergaulan akan membuahkan kebaikan.

Wallahualam Bissawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pentingnya Adab kepada yang Berilmu

  Sebagai manusia yang beragama, menuntut ilmu merupakan suatu keharusan dan menjadi kebutuhan yang mendasar dalam menjalani kehidupan. Semu...