Jumat, 18 Juni 2021

Merubah nasib, atau dirubah nasib ?

    Mungkin sebagian dari kita pernah berfikir tentang hidup enak, hidup nikmat, dan sejahtera! ya, itu merupakan impian setiap kita sebagai makhluk Allah yang paling sempurna. 😁

    Namun banyak juga dari kita yang belum menyadari bahwa hal tersebut harus ditempuh dengan berbagai cara dan upaya yang sesuai dengan norma - norma agama dan diridhoi oleh Sang Pencipta, karena memang kita diperintahkan untuk berusaha semaksimal mungkin untuk merubah nasib, bukan dengan rebahan atau dengan tiduran! heheh.

Allah Berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” 

(TQS. Ar-Ra’d [13]: 11).

    Ayat tersebut menjadi salah satu landasan dalam menjalani kehidupan baik dalam keadaan sempit maupun lapang, bagi mereka yang meyakini memang menjadi kekuatan tersendiri dalam menjalani. Spiritual yang kuat dan merasuk kedalam sanubari akan menjadi sebuah nur dalam qalbu yang menunjukkan jalan kebenaran bagi siapa yang memeluknya. 

    Seiring berkembangnya pola berfikir manusia modern yang menitikberatkan pada pengembangan IPTEK serta semakin menghilangnya ajaran - ajaran hikmah yang yang terkandung dalam nilai agama, menjadi pelemah daya fikir dan daya rasa manusia secara seimbang. Kini kita dihadapkan pada situasi yang menggambarkan tentang kegigihan tanpa kepercayaan, dan kepercayaan tanpa kegigihan, atau bahkan tidak gigih dan tidak percaya, Nah loh!

    Iya betul, sekarang ini kegigihan yang membuahkan keberhasilan seringkali menjadi peluntur kepercayaan sehingga menimbulkan anggapan "Ini Milikku !" tanpa ada kesadaran bahwa "Ini Pemberian Nya". Pemikiran tersebut menjadikan kita bersemangat dalam mencari segala yang ada di dunia tanpa bergantung kepada Sang Pemilik dunia, betapa mengerikannya tatkala kita mengetahui bahwa kenikmatan kita dibayarkan secara kontan di dunia ini sebagai mengganti kenikmatan yang haq pada kehidupan yang berikutnya. 


عِشْ مَا شِــئْتَ فَإِنَّـكَ مَـيِّتٌ وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ وَاعْـمَلْ مَـا شِئْتَ فَإِنَّـكَ لاَقِـيْـهِ

"Hiduplah sesukamu karena sungguh engkau pasti mati. Cintailah siapa pun yang engkau suka karena sungguh kalian pasti berpisah. Berbuatlah sesukamu karena sungguh engkau pasti menemui (balasan) perbuatanmu itu.” 
[HR al-Baihaqi]

    Sebaliknya jika keyakinan tanpa disertai dengan kegigihan akan menjadikan manusia memiliki sifat malas dan tidak memiliki daya juang dalam menjalankan kehidupan, sementara kita ada pada fase kehidupan yang pada dasarnya adalah medan penanaman benih untuk menuai bekal berpulang nanti. Maka jangan sia - siakan kesempatan yang Allah berikan kepada kita makhluk hidup yang sempurna. 

Tetaplah berkeyakinan akan kuasa Allah dan sertailah dengan kegigihan yang selayaknya apa yang diperintahkan Oleh - Nya.

Wallahu A'lam Bishawab


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pentingnya Adab kepada yang Berilmu

  Sebagai manusia yang beragama, menuntut ilmu merupakan suatu keharusan dan menjadi kebutuhan yang mendasar dalam menjalani kehidupan. Semu...